Friday, 6 November 2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan jasmani adptif merupakan salah satu pendidikan yang penting dilakukan di sekolah luar biasa, penjas sendiri merupakan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagia media utama untuk mencapai tujuan, sedangkan adaptif berasal dari kata adaptasi yang berartikan menyesuaikan. Penjas adaptif adalah pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama untuk mencapai tujuan serta disesuaikan atau di modifikasi dengan sedemikian rupa sehingga dapat dipelajari dilaksanakan dan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan jasmani untuk siswa berkebutuhan khusus berbeda dengan pendidikan jasmani yang biasa diberikan kepada siswa normal, sehingga perlu penyesuaian atau modifikasi yang dilakukan oleh guru penjas tersebut. Berkaitan dengan pendidikan jasmani (penjas) adaptif perlu ditegaskan bahwa siswa yang mengalami kelaian tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan pembelajaran peda setiap jenjang pendidikan
Dalam pemberian materi siswa tetap harus diberikan pembelajaran yang depat meningkatkan derajat kesehatan mereka. Hal tersebut dapat diperoleh dengan memberikan bentuk pembelajaran yang menyangkut kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Guru sebagai komponen penting dalam proses pembelajaran seharusnya memiliki gambaran mengajar untuk siswa yang bekebutuhan khusus. Sebelum melaksanakan pembelajaran seyogyanya guru membuat perencanaan strategi yang digunakan dalam mengajar dan memodifikasi peralatan yang akan digunakan agar pembelajaran berjalan dengan lancar.
Dalam observasi yang dilakukan oleh peneliti pada hari rabu, 4 Maret 2015 peneliti mendapatkan informasi tentang pembelajaran penjas adaptif terutama dalam pemberian materi penjas itu sediri. Disekolah tersebut olahraga dijadikan satu untuk semua jenis ketunaan, olahraga khusus tidak ada tapi disamaratakan, dulu ada penjas adaptif namun karena gedung sedang dalam proses perbaikan maka pelaksanaan penjas adptif terhenti.
B.  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.        Bagaimana modifikasi permainan untuk anak tuna grahita trainable?
2.        Apakah pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan pendidikan jasmani adaptif?
C.  Tujuan pembahasan
1.      Untuk mengetahui modifikasi permainan untuk anak tuna grahita trainable
2.      Untuk mengetahui pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut apakah sudah sesuai dengan pendidikan jasmani adaptif
D.      Ruang Lingkup
Ruang lingkup pendidikan jasmani adaptif adalah siswa dan pendidikan jasmani yang dimodifikasi atau disesuaikan dengan siswa / ABK, jadi dalam makalah ini yang dibahas adalah pendidikan jasmani yang dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan olah raga bagi ABK terutama bagi tuna grahita trainable, jadi pendidikan jasmani bagi ABK itu perlu dimodifikasi karena pendidikan jasmani bagi ABK itu berbeda dengan anak normal (reguler).Maka makalah ini akan membahas tentang pendidikan jasmani adaptif apa yang sesuai untuk anak tunagrahita trainable.

BAB II
                                                                   KAJIAN TEORI

A.      Kelompok ABK yang disurvei
Kelompok kami melakukan penelitian pada kelompok ABK Tuna Grahita trainable yaitu kelompok anak tuna grahita mampu latih. Tuna grahita trainable itu sendiri memiliki pengertian yaitu  TRAINABLE  Mempunyi kemampuan dalam mengurus diri sendiri. pertahanan diri,dan penyesuaian sosial, sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik. Tunagrahita mampu latih ( dependent of proudlley retarded) dengan IQ 30 – 50 atau IQ 30 -55. Mereka sulit untuk belajar pelajaran akademik seperti matematika,fisika,kimia,dan antropologi. Mereka biasanya dilatih untuk bisa melakukan ADL (Activity Daily Living) seperti menggosok gigi, mandi, berpakaian, mengambil makanan sendiri, atau menyapu, mencuci piring dll. Asalkan suatu hal itu yang berhubungan dengan aktifitas mengurus diri, karena jika anak tuna grahita trainable diajarkan sesuatu yang berhubungan dengan akademik maka mereka  akan mengaami kesulitan, jadi anak tuna grahita trainable itu perlu dilatih sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan mengurus diri, jadi untuk mempermudah gerak atau melenturkan otot-otot anak tuna grahita trainable itu adalah dengan cara memberikan pendidikan jasmani adaptif.
B.       Teori Pengembangan ABK
Secara umum konsep dasar pendidikan jasmani adaptif tidak berbeda dengan pendidikan jasmani pada umumnya, yaitu mendidik anak melalui aktifitas gerak. Walaupun demikian secara praktis pendidikan jasmani adaptif bersifat khusus, artinya masing-masing kelompok anak berkelainan memerlukan materi atau strategi pembelajaran yang berbeda-beda untuk pngembangan pendidikan jasmani adaptif anak tuna grahita perlu dikaji tentang empat hal sebagai berikut:
a.    Kemampuan motorik dan kinerja anak tuna grahita
b.    Program kesegaran jasmani untuk anak tuna grahita
c.    Tata cara mengajar anak tuna grahita
d.   Pengelompokan anak tuna grahia untuk pendidikan jasmaninya
Anak tuna grahita jangan dibiarkan tidak bergerak, anak tuna grahita juga perlu mendapatkan kebugaran jasmani yang sama dengan anak normal. Mereka perlu menjaga keseimbangan energi yang masuk da energi yang keluar, salah satu cara terbaik untuk menjaga keseimbangan ini adlaah dengan cara berolah raga atau melakukan keterampian fisik. Sasaran utama kesegaran jasmani anak tuna grahita adalah meningkatkan kemampuan kardiovascular dan sistem respirastori , dengan harapan stroke valume jantung permenit mereka tinggi dan peredaran darah mereka lancar, apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan maka bisa dilakukan dengan menggerak- ngerakkan bagian tubuh, hal ini bertujuan untuk ,merangsang perkembangn neuromaskular dan juga agar tidak terjadi kekakuan gerak.

BAB III
HASIL SURVEI

A.    Hasil Survei pelaksanaan dikjas
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan pada hari Rabu tanggal 4 Maret 2015 adalah pelaksanaan pendidikan jasmani yang ada di SDLBN Kedung Kandang Malang, pendidikan jasmani di SDLB ini dilakukan secara bersamaan, yakni tidak ada pembedaan antara ketunaan yang dialami anak, dengan kata lain pendidikan olah raga yang dilakukan di SDLB Kedung Kandang dijadikan satu dalam satu tempat, begitu juga permainan yang di berikan. Hal itu dilakakukan karena keterbatasan guru dan juga keterbatasan tempat. Hal-hal yang dilakukan pertama kali sebelum melakukan olah raga adalah  pemanasan kemudian lari memutari sekitar area sekolah. pendidikan jasmani di SDLB Kedung Kandang ini menyesuaikan minat anak. Pelaksanaan olahraga terjadwal setiap hari selasa dan Rabu, di SDLBN Kedung Kandang pelaksanaan olahraga khusus tidak ada namun disamaratakan untuk segala jenis ketunaan, dulu pendidikan jasmani adaptif sudah ada namun karena adanya rehab bangunan yang menyebabkan hilangnya alat-alat tersebut  sehingga pelaksanaan pendidikan jasmani adaptif  terhenti.
Fasilitas yang tersersedia yaitu lapangan olahraga, meja pingpong, arena lompat jauh, Tolak peluru, lempar lembing. Namun sangat disayangkan dengan adanya fasilitas yang hampir terpenuhi namun pemakaian peralatan olahraga yang terpakai hampir tidak mencapai 50 %.

BAB IV
PENGEMBANGAN GAME UNTUK ABK

Pengembangan games untuk ABK terutama bagi anak tuna grahita trainable adalah dengan cara memberikan games yang bisa menggerakkan seluruh anggota badan anak seperti memberikan senam-senam ceria sekaligus yang menyenangkan, selain itu anak juga bisa di berikan games seperti anak diberikan bola-bola atau balon-balon  yang berwarna terang dan dalam balon tersebut ditempelkan gambar-gambar hewan atau buah-buahan, jadi nanti guru memberikan aba- aba dan siswa disuruh mengambil bola yang sesuai dengan apa yang diperintahkan guru, lalu setelah itu siswa dimintak untuk cepat-cepatan dalam memindahkan bola kedalam keranjang, dengan perminan ini siswa dituntut untuk mau berlari lari kecil. Selain itu ada beberapa permainan yang dapat diterapkan bagi anak tuna grahita trainablel yakni Menurut Suharmini (2007:73) bahwa ada 2 perkembangan motorik yang dikenal,yaitu motorik kasar dan motorik halus. motorik kasar banyak berkaitan dengan perkembangan ketangkasan gerak, sedangkan motorik halus berkaitan denganketerampilan menulis, menggambar, dsb. Menurut Freud (Efendi, 2006:105) berpandangan bahwa bermain merupakan cara seseorang untuk membebaskan diri dari berbagai tekanan yang kompleks atau merugikan. Melalui kegiatan bermain perasaan menjadi lega, bebas, dan berarti, selain itu bermain dapat melatih motorik anak agar otot-otot pada tubuh bekerja dengan maksimal. Suharmini (2007:74) menyatakan bahwagerakan motorik yang jelas dan terarah akan membantu anak dalam melakukan adaptasi,sehingga pada waktu anak belajar, atau mengamati akan lebih mudah terjadi asimilasidan akomodasi. Pada penelitian ini terapi bermain bola adalah dengan cara permainan melempar bola kedalam keranjang yang dilakukan dengan jarak melempar 3m dan tinggikeranjang 2m dengan menggunakan bola basket dengan berat 600 gram dan keliling bola 75-78cm. Jadi terapi bermain ini yaitu mengukur kemampuan melempar bola dengan keliling bola 75-78cm dan jarak 3m pada anak tunagrahita ringan yangkecerdasannya 50-70 dan memiliki kekhususan dalam menerima instruksi arahan dalam beberapa hal, baik dalam belajar, bermain, maupun aktivitas lain yang mereka lakukan dibandingkan anak normal.Menurut Chusairi (2005:9) Bermain dapat digunakan sebagai media terapi, karena terdapat beberapa alasan :
1.    Bermain mengajak dan membiarkan anak mengkomunikasikan perasaannya secara efektif menjadi suatu hal yang wajar.
2.    Bermain memperbolehkan orang dewasa untuk masuk dalam dunia anak-anak dan menunjukkan pada anak bahwa mereka dihargai dan diterima.
3.    Observasi melalui bermain sangat membantu untuk memahami anak-anak dengan lebih baik.
MenurutWidati dan Murtadlo (2007:158) bahwa keuntungan melemparkan bola dengan jarak  jauh dapat mendorong kreativitas, memungkinkan para siswa menemukan bagaimana beragam bagian tubuh memberikan kontribusi pada pola-pola gerakan, danmeningkatkan konsep diri ketika para siswa menerima umpan balik yang positif sambilmembentuk respon mereka untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Fungsi terapi bermain bola bagi perkembangan anak tunagrahita ringan, yaitu:
1.      Pengembangan Sensomotorik. Menurut Efendi (2006:106) bahwa bermain dapatmelatih penginderaan (sensoris) seperti ketajaman penglihatan, pendengaran perabaan,atau penciuman. Melakukan kegiatan bermain anak dapat melatih otot dan kemampuangerak seperti tangan, kaki, jari-jari, leher, dan gerak tubuh lainnya.
2.      PembinaanPribadi. Menurut Efendi (2006:106) bahwa dalam bermain anak sebenarnya berlatihmemperkuat kemauan, memusatkan perhatian, mengembangkan keuletan, ketekunan, percaya diri, dan lainnya.
3.      Pengembangan Sosialisasi. Menurut Efendi (2006:106) bahwa ada unsur yang menarik dari kegiatan bermain dilihat dari pengembangansosialisasi, yaitu anak harus berbesar hati menunggu giliran, rela menerima kekalahan,setia, dan jujur.

BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan.
Secara umum konsep dasar pendidikan jasmani adaptif tidak berbeda dengan pendidikan jasmani pada umumnya, yaitu mendidik anak melalui aktifitas gerak. Walaupun demikian secara praktis pendidikan jasmani adaptif bersifat khusus, artinya masing-masing kelompok anak berkebutuhan khusus memerlukan materi atau strategi pembelajaran yang berbeda-beda untuk pengembangan pendidikan jasmani adaptif mereka. Hasil survei yang kami dapatkan dari opservasi kami di SDLB Kedung Kandang tentang pendidikan jasmani adaptif bagi anak tuna grahita trainable  adalah pelaksanaanya disana tidak dikelompok-kelompokkan menurut ketunaan anak, tetapi dijadikan satu begitu juga dengan permainan-permainan yang diberikan hal tersebut dikarenakan minimnya pengajar dan juga mnimnya tempat, selain itu disana dulu juga sudah pernah diadakan pendidikan jasmani adaptif tetapi terhenti dikarenakan adanya rehab gedung yang menyebabkan hilangnya alat-alat pendidikan jasmani tersebut.
B.       Saran
Pendidikan jasmani adaptif yang dilakukan di SDLB kedung kandang ini seharusnya dilakukaan dengan cara terpisah-pisah yakni mengelompokkan anak sesuai dengan ketunaanya, karena hal tersebut akan memudahkan guru dalam memberikan permainan atau modifikasi-modifikasi dalam pendidikan jasmani adaptif anak. Jika dalam olah raga anak dijadikan satu atau tidak membeda-bedakan anak sesuai ketunaannya maka hal tersebut akan menghambat gerak guru dalam memodifikasikan pendidikan jasmani adaptif bagi anak, karena guru dituntut untuk mampu memberikan modifikasi permaianan yang bisa dilakuakan bagi semua anak dengan segala jenis ketunaan.

  
DAFTAR RUJUKAN

Asim. 2004. Pendidikan Jasmani Adaptif Untuk Anak Tuna Grahita. Malang. Laboratorium Ilmu Keolahragaan FIK Universitas Negeri Malang

1 comment:

  1. Gambling and Gaming (GBH) Casino No Deposit Bonus Codes
    AGBH casino no deposit bonus 부천 출장안마 codes and offers free 이천 출장샵 credits in addition 오산 출장안마 to bonus 사천 출장마사지 cash and cashback. This casino also offer 제주도 출장샵

    ReplyDelete