BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
jasmani adptif merupakan salah satu pendidikan yang penting dilakukan di
sekolah luar biasa, penjas sendiri merupakan pendidikan yang dilakukan melalui
aktivitas fisik sebagia media utama untuk mencapai tujuan, sedangkan adaptif
berasal dari kata adaptasi yang berartikan menyesuaikan. Penjas adaptif adalah
pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama untuk
mencapai tujuan serta disesuaikan atau di modifikasi dengan sedemikian rupa
sehingga dapat dipelajari dilaksanakan dan memenuhi kebutuhan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan jasmani
untuk siswa berkebutuhan khusus berbeda dengan pendidikan jasmani yang biasa
diberikan kepada siswa normal, sehingga perlu penyesuaian atau modifikasi yang
dilakukan oleh guru penjas tersebut. Berkaitan dengan pendidikan jasmani
(penjas) adaptif perlu ditegaskan bahwa siswa yang mengalami kelaian tetap
memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan pembelajaran peda
setiap jenjang pendidikan
Dalam
pemberian materi siswa tetap harus diberikan pembelajaran yang depat
meningkatkan derajat kesehatan mereka. Hal tersebut dapat diperoleh dengan
memberikan bentuk pembelajaran yang menyangkut kebugaran jasmani. Kebugaran
jasmani sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Guru sebagai komponen
penting dalam proses pembelajaran seharusnya memiliki gambaran mengajar untuk
siswa yang bekebutuhan khusus. Sebelum melaksanakan pembelajaran seyogyanya
guru membuat perencanaan strategi yang digunakan dalam mengajar dan
memodifikasi peralatan yang akan digunakan agar pembelajaran berjalan dengan
lancar.
Dalam
observasi yang dilakukan oleh peneliti pada hari rabu, 4 Maret 2015 peneliti
mendapatkan informasi tentang pembelajaran penjas adaptif terutama dalam
pemberian materi penjas itu sediri. Disekolah tersebut olahraga dijadikan satu
untuk semua jenis ketunaan, olahraga khusus tidak ada tapi disamaratakan, dulu
ada penjas adaptif namun karena gedung sedang dalam proses perbaikan maka
pelaksanaan penjas adptif terhenti.
B. Rumusan
masalah
Berdasarkan latar
belakang penelitian yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana modifikasi permainan untuk
anak tuna grahita trainable?
2.
Apakah pembelajaran yang dilakukan sudah
sesuai dengan pendidikan jasmani adaptif?
C. Tujuan
pembahasan
1. Untuk
mengetahui modifikasi permainan untuk anak tuna grahita trainable
2. Untuk
mengetahui pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut apakah sudah sesuai
dengan pendidikan jasmani adaptif
D. Ruang
Lingkup
Ruang
lingkup pendidikan jasmani adaptif adalah siswa dan pendidikan jasmani yang
dimodifikasi atau disesuaikan dengan siswa / ABK, jadi dalam makalah ini yang
dibahas adalah pendidikan jasmani yang dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan pendidikan
olah raga bagi ABK terutama bagi tuna grahita trainable, jadi pendidikan
jasmani bagi ABK itu perlu dimodifikasi karena pendidikan jasmani bagi ABK itu
berbeda dengan anak normal (reguler).Maka makalah ini akan membahas tentang
pendidikan jasmani adaptif apa yang sesuai untuk anak tunagrahita trainable.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kelompok
ABK yang disurvei
Kelompok kami melakukan penelitian pada kelompok ABK
Tuna Grahita trainable yaitu kelompok anak tuna grahita mampu latih. Tuna
grahita trainable itu sendiri memiliki pengertian yaitu TRAINABLE
Mempunyi kemampuan dalam mengurus diri sendiri. pertahanan diri,dan penyesuaian
sosial, sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.
Tunagrahita
mampu latih ( dependent of proudlley retarded) dengan IQ 30 – 50 atau IQ 30
-55. Mereka sulit untuk belajar pelajaran akademik seperti
matematika,fisika,kimia,dan antropologi. Mereka biasanya dilatih untuk bisa
melakukan ADL (Activity Daily Living) seperti menggosok gigi, mandi,
berpakaian, mengambil makanan sendiri, atau menyapu, mencuci piring dll.
Asalkan suatu hal itu yang berhubungan dengan aktifitas mengurus diri, karena
jika anak tuna grahita trainable diajarkan sesuatu yang berhubungan dengan
akademik maka mereka akan mengaami
kesulitan, jadi anak tuna grahita trainable itu perlu dilatih sesuatu yang
berhubungan dengan kemampuan mengurus diri, jadi untuk mempermudah gerak atau
melenturkan otot-otot anak tuna grahita trainable itu adalah dengan cara
memberikan pendidikan jasmani adaptif.
B. Teori
Pengembangan ABK
Secara umum konsep dasar pendidikan jasmani adaptif
tidak berbeda dengan pendidikan jasmani pada umumnya, yaitu mendidik anak
melalui aktifitas gerak. Walaupun demikian secara praktis pendidikan jasmani
adaptif bersifat khusus, artinya masing-masing kelompok anak berkelainan
memerlukan materi atau strategi pembelajaran yang berbeda-beda untuk
pngembangan pendidikan jasmani adaptif anak tuna grahita perlu dikaji tentang
empat hal sebagai berikut:
a. Kemampuan
motorik dan kinerja anak tuna grahita
b. Program
kesegaran jasmani untuk anak tuna grahita
c. Tata
cara mengajar anak tuna grahita
d. Pengelompokan
anak tuna grahia untuk pendidikan jasmaninya
Anak tuna grahita jangan dibiarkan tidak bergerak,
anak tuna grahita juga perlu mendapatkan kebugaran jasmani yang sama dengan
anak normal. Mereka perlu menjaga keseimbangan energi yang masuk da energi yang
keluar, salah satu cara terbaik untuk menjaga keseimbangan ini adlaah dengan
cara berolah raga atau melakukan keterampian fisik. Sasaran utama kesegaran
jasmani anak tuna grahita adalah meningkatkan kemampuan kardiovascular dan
sistem respirastori , dengan harapan stroke valume jantung permenit mereka
tinggi dan peredaran darah mereka lancar, apabila hal tersebut tidak dapat
dilakukan maka bisa dilakukan dengan menggerak- ngerakkan bagian tubuh, hal ini
bertujuan untuk ,merangsang perkembangn neuromaskular dan juga agar tidak
terjadi kekakuan gerak.
BAB III
HASIL
SURVEI
A. Hasil Survei pelaksanaan dikjas
Berdasarkan
penelitian yang kami lakukan pada hari Rabu tanggal 4 Maret 2015 adalah
pelaksanaan pendidikan jasmani yang ada di SDLBN Kedung Kandang Malang,
pendidikan jasmani di SDLB ini dilakukan secara bersamaan, yakni tidak ada
pembedaan antara ketunaan yang dialami anak, dengan kata lain pendidikan olah
raga yang dilakukan di SDLB Kedung Kandang dijadikan satu dalam satu tempat,
begitu juga permainan yang di berikan. Hal itu dilakakukan karena keterbatasan
guru dan juga keterbatasan tempat. Hal-hal yang dilakukan pertama kali sebelum
melakukan olah raga adalah pemanasan
kemudian lari memutari sekitar area sekolah. pendidikan jasmani di SDLB Kedung
Kandang ini menyesuaikan minat anak. Pelaksanaan olahraga terjadwal setiap hari
selasa dan Rabu, di SDLBN Kedung Kandang pelaksanaan olahraga khusus tidak ada
namun disamaratakan untuk segala jenis ketunaan, dulu pendidikan jasmani
adaptif sudah ada namun karena adanya rehab bangunan yang menyebabkan hilangnya
alat-alat tersebut sehingga pelaksanaan
pendidikan jasmani adaptif terhenti.
Fasilitas yang tersersedia yaitu
lapangan olahraga, meja pingpong, arena lompat jauh, Tolak peluru, lempar
lembing. Namun sangat disayangkan dengan adanya fasilitas yang hampir terpenuhi
namun pemakaian peralatan olahraga yang terpakai hampir tidak mencapai 50 %.
BAB IV
PENGEMBANGAN GAME UNTUK ABK
Pengembangan
games untuk ABK terutama bagi anak tuna grahita trainable adalah dengan cara
memberikan games yang bisa menggerakkan seluruh anggota badan anak seperti
memberikan senam-senam ceria sekaligus yang menyenangkan, selain itu anak juga
bisa di berikan games seperti anak diberikan bola-bola atau balon-balon yang berwarna terang dan dalam balon tersebut
ditempelkan gambar-gambar hewan atau buah-buahan, jadi nanti guru memberikan
aba- aba dan siswa disuruh mengambil bola yang sesuai dengan apa yang
diperintahkan guru, lalu setelah itu siswa dimintak untuk cepat-cepatan dalam
memindahkan bola kedalam keranjang, dengan perminan ini siswa dituntut untuk
mau berlari lari kecil. Selain itu ada beberapa permainan yang dapat diterapkan
bagi anak tuna grahita trainablel yakni Menurut Suharmini (2007:73) bahwa
ada 2 perkembangan motorik yang dikenal,yaitu motorik kasar dan motorik halus.
motorik kasar banyak berkaitan dengan perkembangan ketangkasan gerak,
sedangkan motorik halus berkaitan denganketerampilan menulis, menggambar, dsb.
Menurut Freud (Efendi, 2006:105) berpandangan bahwa bermain merupakan cara
seseorang untuk membebaskan diri dari berbagai tekanan yang kompleks atau
merugikan. Melalui kegiatan bermain perasaan menjadi lega, bebas, dan berarti,
selain itu bermain dapat melatih motorik anak agar otot-otot pada tubuh
bekerja dengan maksimal. Suharmini (2007:74) menyatakan bahwagerakan motorik
yang jelas dan terarah akan membantu anak dalam melakukan adaptasi,sehingga
pada waktu anak belajar, atau mengamati akan lebih mudah terjadi asimilasidan
akomodasi. Pada penelitian ini terapi bermain bola adalah dengan cara permainan
melempar bola kedalam keranjang yang dilakukan dengan jarak melempar 3m dan
tinggikeranjang 2m dengan menggunakan bola basket dengan berat 600 gram dan
keliling bola 75-78cm. Jadi terapi bermain ini yaitu mengukur kemampuan
melempar bola dengan keliling bola 75-78cm dan jarak 3m pada anak tunagrahita
ringan yangkecerdasannya 50-70 dan memiliki kekhususan dalam menerima instruksi
arahan dalam beberapa hal, baik dalam belajar, bermain, maupun aktivitas
lain yang mereka lakukan dibandingkan anak normal.Menurut Chusairi (2005:9)
Bermain dapat digunakan sebagai media terapi, karena terdapat beberapa alasan :
1.
Bermain mengajak dan membiarkan
anak mengkomunikasikan perasaannya secara efektif menjadi suatu hal yang
wajar.
2.
Bermain memperbolehkan orang dewasa untuk masuk dalam
dunia anak-anak dan menunjukkan pada anak bahwa mereka dihargai dan diterima.
3.
Observasi melalui bermain sangat membantu untuk
memahami anak-anak dengan lebih baik.
MenurutWidati dan Murtadlo
(2007:158) bahwa keuntungan melemparkan bola dengan jarak jauh dapat
mendorong kreativitas, memungkinkan para siswa menemukan bagaimana beragam
bagian tubuh memberikan kontribusi pada pola-pola gerakan, danmeningkatkan
konsep diri ketika para siswa menerima umpan balik yang positif sambilmembentuk
respon mereka untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Fungsi terapi bermain bola
bagi perkembangan anak tunagrahita ringan, yaitu:
1.
Pengembangan Sensomotorik. Menurut Efendi (2006:106)
bahwa bermain dapatmelatih penginderaan (sensoris) seperti ketajaman
penglihatan, pendengaran perabaan,atau penciuman. Melakukan kegiatan bermain
anak dapat melatih otot dan kemampuangerak seperti tangan, kaki, jari-jari,
leher, dan gerak tubuh lainnya.
2.
PembinaanPribadi. Menurut Efendi (2006:106) bahwa
dalam bermain anak sebenarnya berlatihmemperkuat kemauan, memusatkan perhatian,
mengembangkan keuletan, ketekunan, percaya diri, dan lainnya.
3.
Pengembangan Sosialisasi. Menurut Efendi
(2006:106) bahwa ada unsur yang menarik dari kegiatan bermain dilihat dari
pengembangansosialisasi, yaitu anak harus berbesar hati menunggu giliran, rela
menerima kekalahan,setia, dan jujur.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Secara umum konsep dasar pendidikan jasmani adaptif tidak
berbeda dengan pendidikan jasmani pada umumnya, yaitu mendidik anak melalui
aktifitas gerak. Walaupun demikian secara praktis pendidikan jasmani adaptif
bersifat khusus, artinya masing-masing kelompok anak berkebutuhan khusus
memerlukan materi atau strategi pembelajaran yang berbeda-beda untuk
pengembangan pendidikan jasmani adaptif mereka. Hasil survei yang kami dapatkan
dari opservasi kami di SDLB Kedung Kandang tentang pendidikan jasmani adaptif
bagi anak tuna grahita trainable adalah
pelaksanaanya disana tidak dikelompok-kelompokkan menurut ketunaan anak, tetapi
dijadikan satu begitu juga dengan permainan-permainan yang diberikan hal
tersebut dikarenakan minimnya pengajar dan juga mnimnya tempat, selain itu
disana dulu juga sudah pernah diadakan pendidikan jasmani adaptif tetapi
terhenti dikarenakan adanya rehab gedung yang menyebabkan hilangnya alat-alat
pendidikan jasmani tersebut.
B. Saran
Pendidikan jasmani adaptif yang
dilakukan di SDLB kedung kandang ini seharusnya dilakukaan dengan cara terpisah-pisah
yakni mengelompokkan anak sesuai dengan ketunaanya, karena hal tersebut akan
memudahkan guru dalam memberikan permainan atau modifikasi-modifikasi dalam
pendidikan jasmani adaptif anak. Jika dalam olah raga anak dijadikan satu atau
tidak membeda-bedakan anak sesuai ketunaannya maka hal tersebut akan menghambat
gerak guru dalam memodifikasikan pendidikan jasmani adaptif bagi anak, karena
guru dituntut untuk mampu memberikan modifikasi permaianan yang bisa dilakuakan
bagi semua anak dengan segala jenis ketunaan.
DAFTAR
RUJUKAN
Asim.
2004. Pendidikan Jasmani Adaptif Untuk
Anak Tuna Grahita. Malang. Laboratorium Ilmu Keolahragaan FIK Universitas
Negeri Malang